Aku Tak ‘kan Berhenti Mencintaimu (untuk dinda Sri Lestari)

Apa yang mesti kukatakan padamu saat Rindu menikam langit?
Ketika deru metropolitan tak lagi menyisakan arti
Dan temaram lampu jalan hanya menyinari kehampaan

Adalah kau, dindakuyang melebur satu dalam sukmaku
mengalirkan kemuliaan cinta
pada sungai kasih yang engkau bentangkan
Di hatiku, yang mendambamu, dari detik ke detik

Jika saja gerimis malam ini tak segera usai
Aku akan tetap mengurainya satu demi satu
menjadi noktah-noktah kecil berwarna cemerlang
Lalu melukisnya dikanvas langit
menjadi gambaran wajahmu
Dengan ukiran bulan sebagai senyummu

Apa yang mesti kunyatakan padamu saat sunyi menyesak dada?
ketika kutangkap dan kudekap bayangmu di relung kamar
pada senja merah yang menggetarkan
Adalah kau dindaku,Bunga mimpiku dari malam ke malam
yang memberi seribu makna dari kelembutan matamu

Sungguh, aku hanya punya cinta sederhana untukmu
yang telah kurajut dengan benang-benang kesetiaan
Dan kujalin indah hingga kau kujelang
Pada waktunya kelak
Kita songsong cakrawala membuka tirai pagi
Dengan terik sinarnya yang menyejukkan hati
Lalu biarkan aku membawamu terbang
Menyusuri pelangi dan melintasi mega
Sambil kubisikkan lirih ditelingamu:
“Aku tak akan berhenti mencintaimu”

Jakarta,20 April 1997 

Menyesap Senyap

Selalu, aku rasa,
kita akan bercakap dalam senyap
Dengan bahasa langit yang hanya kita yang tahu
serta menyemai setiap harap yang kerap datang mengendap
lalu meresapinya ke hati dengan getir

Selalu, aku rasa,
kamu tersenyum disana, ketika akupun tersenyum disini
dan kita, dengan bahasa langit yang kita punya itu,
secara bersahaja, menyapa larik-larik kenangan
dan meniti setiap selasar waktu
bersama desir rindu menoreh kalbu

Selalu, aku rasa,
kita tak dapat menafikan batas yang membentang
dimana jarak membingkainya lalu menjadikannya nyata
serta membuat kita sadar
bahwa pada akhirnya,
dalam pilu kita berkata:
Biarlah, kita menyesap setiap serpihan senyap
dan menikmatinya, tak henti, hingga lelap
tanpa tatap, tanpa ratap

Jkt,150109

PUISI TAHUN BARU

Tidurlah yang pulas anakku
Saat kuganti kalender penanda waktu
pada pagi pertama ditahun baru
ditingkah gerimis yang tak jua usai
dan kerlip kembang api dilangit malam
serta gemuruh petir menggetarkan sukma
Seperti degup jantungku yang mencoba memadamkan gusar
menghadapi hari-hari yang bakal tersingkap satu-satu dari kalender baru
Mimpilah yang indah anakku
Tentang hari-hari berwarna sepanjang tahun
Tentang pelangi yang selalu bertengger anggun di Cakrawala
Tentang bidadari yang menari riang diatas awan
karena ayah, juga ibumu, akan menjagamu, mengawalmu,
membelaimu dan memelihara mimpimu menjadi nyata
Seperti kemarin, kini dan juga nanti
lalu menyimpan rapi setiap iris kenangan yang menyertainya
dipalung hati paling dalam
dan bukan pada lembar-lembar kalender tua yang teronggok sepi disudut ruang
Selamat Tahun Baru, Anakku..

Untuk Sepotong Senja di Akhir Tahun

Dalam Diam, kau termangu
Sepotong senja dibatas cakrawala memaku pandangmu
“Di akhir tahun, selalu ada rindu yang luluh disana, sejak dulu”
katamu, pilu

Terlampau cepat waktu berderak
hingga setiap momen tak sempat kau bekukan dalam hati
tapi tidak untuk ini
selalu ada ruang buatnya dipojok sanubari
dimana kangen itu kau kemas
bersama serpih-serpih kenangan
yang terserak dan telah kau simpan rapi
pada lanskap langit atau kerlip bintang di bentang lazuardi
hingga ketika saat itu tiba
kau memetiknya satu-satu
dengan asa menyala, juga senyum getir
seraya mengurai lamunan
“Kalau saja mesin waktu bisa diciptakan, selalu
akan ada kesempatan berikut”, igaumu pelan.
Begitu banyak garis batas memuai
saat kau terbuai

Dan ketika rindu itu terbenam bersama mentari senja,
sekali lagi, setiap waktu di akhir tahun tiba,
kau kembali diam dan termangu dipagut sepi yang menikam
serta sesal tak bertepi

Pagi Bening

Matahari tak pernah lalai menjemput pagi

dan mengusir embun perlahan serta

mengelupas gelap malam menjadi bening hari

seperti senyum manismu, istriku

yang mengusir embun perlahan

menuju ke cakrawala

saat mengantarku

meniti perjalanan dengan riang

Meraba Bintang

Mendekat kesini anakku,

Mari kita raba bintang dilangit yang hangat

dan rasakan bagaimana karuniaNya

mengalir dashyat dari redup kilaunya yang melenakan

dan lembut mengelus jiwa

seperti binar teduh mata kalian

yang selalu menghimbauku untuk cepat pulang

Dari Balik Jendela Bis

Kaca buram itu memantulkan silau rimba beton

juga kepongahan kota yang tak jua berhenti menggeliat

Dan aku membeku, dikursi penumpang

menatap hampa tanpa kata

sementara suara sumbang sang pengamen bis

mengalun tajam, merajam hati

Ceria di Mata Alya

Pada matamu anakku,

Selalu kubaca desir rindu yang mampu melerai gundah

serta melepas letih dari sesak perjalanan

Pada matamu anakku,

Ada telaga jernih dengan angsa putih bermain riang disana

yang membuatku

tak akan tersesat menemukan jalan pulang

Jejakmu, Lukamu..

Kau pahat muram dilangit hitam dengan geram

lalu kau buat gairahku berkelindan kusut

dengan tikaman matamu yang membara

“Sudahlah. Sampai disini saja,” tukasmu getir

Dan sisa jejakmupun menyisakan luka

yang tak jua hilang meski gerimis telah usai